Minggu, 15 Oktober 2017

Modifikasi Akar

Tugas IPA  Tentang Modifikasi Akar 

1. Nama Tumbuhan : Singkong

Hasil gambar untuk singkong

Deskripsi : 
  • bentuk : memanjang , bulat , dan tak beraturan
  • fungsi modifikasi akar : menyimpan cadangan makanan
2.Nama Tumbuhan : wortel
Hasil gambar untuk wortel
Deskripsi : 
  • bentuk : seperti tombak 
  • fungsi modifikasi akar : menyimpan cadangan makanan
3.Nama Tumbuhan : bakau 

Hasil gambar untuk fungsi dan bentuk akar bakau

Deskripsi :
  • bentuk : seperti ranting yang menancap ke tanah 
  • fungsi modifikasi akar : respirasi & mengokohkan tumbuhan saat terhantam ombak
4. Nama Tumbuhan : Lobak 
Hasil gambar untuk lobak
Deskripsi :
  • bentuk : seperti tombak
  • fungsi modifikasi akar : menyimpan cadangan makanan
5. Nama Tumbuhan : beringin
Hasil gambar untuk beringin

Deskripsi :
  • bentuk : seperti tali yang menggantung pada batang dengan rimbun
  • fungsi modifikasi akar : respirasi
6. Nama Tumbuhan : jahe 
Hasil gambar untuk jahe
Deskripsi :
  • bentuk : tak beraturan
  • fungsi modifikasi akar : menyimpan cadanagan makanan
7. Nama Tumbuhan : bawang 
Hasil gambar untuk bawang putih
Deskripsi : 
  • bentuk : tunggang 
  • fungsi modifikasi akar : menyimpan cadangan makanan
8. Nama Tumbuhan : sirih 
Hasil gambar untuk sirih

Deskripsi : 
  • bentuk : serabut 
  • fungsi modifikasi akar  : berkompetisi mendapat sinar matahari

Senin, 09 Oktober 2017

Hipertensi dan Hipotensi

Hipertensi dan Hipotensi

Hipertensi

Hipertensi merupakan kondisi dimana  tekanan darah mengalami kenaikan  hingga diatas normal yaitu diatas  140/90 mmHg. Nilai normal tekanan  darah seseorang yaitu 120/80 mmHg.  Tekanan darah biasanya naik seiring  dengan bertambahnya usia karena  hilangnya elastisitas pembuluh darah.  Jika tekanand arah tinggi tidak  mendapatkan pengobatan dan  pengontrolan secara teratur, maka  penderita akan mengalami kasus-kasus  yang lebih serius, bahkan hingga  menyebabkan kematian.
stop-drinkingsHipertensi sering disebabkan oleh faktor  sekunder, yaitu karena adanya penyakit  lain yang menyertainya seperti penyakit  ginjal, kelainan hormonal, obat-obatan  tertentu, obesitas, stress dan alkohol.  Selain itu juga hipertensi dapat terjadi  secara primer (hipertensi esensial), yaitu  hipertensi yang penyebabnya  belum/tidak diketahui.
Tekanan darah tinggi memberikan  sebuah ketegangan pada jantung yang  dapat menyebabkan gagal jantung,  pembesaran otot jantung dan kegagalan  katup. Tekanan darah tinggi juga dapat  menimbulkan pecah pembuluh darah  kecil didalam otak, sehingga dapat  memicu terjadinya stroke hemoragik  (perdarahan dalam substansi otak).  Selain itu juga tekanan darah tinggi  dapat menyebabkan gagal ginjal.

Penanganan Hipertensi

Diet Hipertensi
  1. Kandungan garam (Sodium/Natrium)
    Seseorang yang menderita hipertensi  sebaiknya mengontrol asupan garam  yang dikonsumsi. Untuk dapat  mengontrol asupan garam tersebut,  berikut beberapa tips yang dapat  dilakukan :
  • Ketika membeli makanan pilih jumlah  kandungan sodium yang rendah
  • Batasi konsumsi daging dan keju
  • Hindari cemilan yang asin-asin
  • Kurangi pemakaian saus yang  umumnya memiliki kandungan sodium
  • Kandungan Potasium/Kalium
    Suplemen potasium 2-4 gram/hari dapat  membantu menurunkan tekanan darah.  Umumnya potasium banyak ditemukan  pada buah-buahan dan sayuran, seperti  semangka, alpukat, melon, pare, labu  siam, mentimun, lidah buaya, bawang  putih, seledri, dan lain-lain. Selain itu,  kandungan omega-3 juga dikenal sangat  efektif dalam menurunkan tekanan  darah.

Hipotensi

Tanda dan GejalaHipotensi merupakan suatu kondis yang  ditandai dengan tekanan darah yang  berada dibawah normal. Hipotensi  merupakan suatu istilah medis yang  biasa digunakan pada seseorang yang  memiliki tekanan darah kurang dari  90/60 mmHg. Seseorang yang  mengalami tekanan darah rendah sering  mengeluhkan keadaan sering pusing,  sering menguap, penglihatan kurang  jelas (kunang-kunang) terutama setelah  duduk lama kemudian berjalan, keringat  dingin, merasa cepat lelah, bahkan  sampai mengalami pingsan yang  berulang. Pada pemeriksaan secara  umum denyut nadi lemah, penderita  terlihat pucat, hal ini disebabkan oleh  suplai darah yang tidak maksimum  keseluruh jaringan tubuh.
Secara umum hipotensi disebabkan oleh  beberapa hal seperti pendarahan,  pelebaran pembuluh darah karena  infeksi yang meluas, volume darah yang  berkurang, penurunan curah jantung,  dan vasolidatasi pembuluh darah.
Terdapat beberapa tips penanganan yang  dapat dilakukan untuk mengatasi  hipotensi, diantaranya :
  • Minum air dalam jumlah yang cukup  banyak, yaitu antara 8 sampai 10 gelas  per hari. Sesekali minum kopi untuk  memicu peningkatan detak jantung  sehingga tekanan darah akan  meningkat.
    mengonsumsi makanan yang  mengandung kadar garam yang cukup.
  • Lakukan olahraga secara teratur, seperti  berjalan kaki pada pagi hari selama 30  menit. Lakukan minimal 3 kali  seminggu untuk membantu mengurangi  timbulnya gejala.
  • Bagi wanita dianjurkan untuk  menggunakan stocking yang elastis.
  • Pemberian obat-obatan yang dapat  meningkatkan tekanan darah hanya  dilakukan jika gejala hipotensi yang  dirasakan benar-benar mengganggu  aktivitas sehari-hari. Selain itu dokter  hanya akan memberikan vitamin  (suport/placebo) serta beberapa saran  yang dapat dilakukan oleh penderita.
  • Gejala Hipotensi

    Tidak semua yang mengalami hipotensi akan merasakan gejala. Kondisi hipotensi juga tidak selalu memerlukan perawatan. Namun jika tekanan darah cukup rendah, kemungkinan besar bisa menimbulkan gejala-gejala seperti berikut ini.
    • Jantung berdebar kencang atau tidak teratur.
    • Pusing.
    • Lemas.
    • Mual.
    • Kehilangan keseimbangan atau merasa goyah.
    • Pandangan buram.
    • Pucat dan badan dingin.
    • Napas pendek atau cepat.
    • Pingsan.
    • Dehidrasi.
    Jika mengalami gejala hipotensi, sebaiknya Anda segera duduk atau berbaring, minum air putih, dan menghentikan semua kegiatan yang sedang Anda lakukan. Gejala biasanya akan segera hilang setelah beberapa saat.
    Jika Anda sering mengalami gejala hipotensi seperti yang disebutkan di atas, temui dokter untuk mengukur tekanan darah Anda dan memeriksa apakah ada penyakit tertentu yang menyebabkan timbulnya gejala seperti hipotensi.

    Penyebab Hipotensi

    Sebenarnya tekanan darah bisa berubah sepanjang hari, tergantung kepada kegiatan yang sedang dilakukan dan hal ini dianggap normal.
    Ada banyak faktor yang menyebabkan tekanan darah seseorang rendah, seperti faktor usia, pengobatan, dan kondisi cuaca.
    Cuaca udara yang lebih panas bisa membuat tekanan darah menurun. Orang yang sedang rileks atau rajin berolahraga juga umumnya mempunyai tekanan darah yang lebih rendah. Selain itu jika Anda baru saja makan, tekanan darah juga bisa menurun karena banyak darah yang akan mengalir menuju saluran pencernaan untuk mencerna dan menyerap makanan.
    Tekanan darah pada siang dan malam hari pun berbeda. Biasanya pada siang hari tekanan darah akan meningkat, dan malam harinya akan lebih rendah.

    Penyebab hipotensi akibat kondisi atau penyakit tertentu

    Hipotensi bisa diakibatkan oleh kondisi atau penyakit tertentu, beberapa di antaranya adalah:
    • Hipotensi ortostatik. Gejala hipotensi ortostatik biasanya muncul saat Anda berubah posisi secara tiba-tiba. Seseorang dengan hipotensi ortostatik mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebanyak 15-30 mm Hg ketika berdiri dari posisi duduk atau berbaring.
    • Neurally mediated hypotension. Kondisi ini biasanya terjadi saat seseorang berdiri terlalu lama, hingga aliran darah berkumpul pada bagian bawah tubuh.
    • Dehidrasi. Dehidrasi terjadi akibat tubuh kekurangan cairan dan bisa disebabkan oleh kurang minum, puasa atau diare.
    • Efek samping pengobatan. Ada beberapa obat yang bisa menurunkan tekanan darah, seperti obat antidepresi, obat anti-hipertensi seperti alpha-blocker dan beta-blocker, obat penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE Inhibitor) hingga obat diuretik.
    • Anemia. Anemia merupakan kondisi di mana kandungan hemoglobin di dalam darah rendah. Salah satu gejala anemia adalah tekanan darah rendah.
    • Kehamilan. Tekanan darah pada wanita hamil biasanya lebih rendah karena sistem peredaran darahnya yang berkembang dengan cepat.
    • Ketidakseimbangan hormon. Penyakit seperti diabetes atau penyakit Addison menyebabkan gangguan produksi hormon. Hal ini bisa berdampak pada keseimbangan kadar air dan mineral tubuh, serta tekanan darah.
    • Penyakit saraf. Penyakit saraf seperti penyakit Parkinson dapat menyebabkan hipotensi ketika menjangkiti sistem saraf yang mengontrol fungsi tubuh otonom seperti mengendalikan tekanan darah.
    • Perdarahan hebat. Hilangnya darah dalam jumlah besar dalam tubuh akan menurunkan asupan darah ke jaringan-jaringan di tubuh, sehingga tekanan darah tubuh akan menurun drastis. Ini merupakan kondisi mengancam nyawa yang memerlukan penanganan medis secepatnya.
    • Penyakit jantungPenyakit kronis seperti penyakit jantung menyebabkan darah tidak bisa dipompa dengan baik oleh jantung ke seluruh tubuh. Akibatnya, tekanan darah pun menurun.
    • Infeksi darah (Sepsis). Sepsis terjadi ketika infeksi yang terjadi dalam jaringan mulai memasuki aliran darah. Akibatnya, tekanan darah akan menurun drastis. Kondisi ini mengancam nyawa dan memerlukan penanganan medis secepatnya.
    • Reaksi alergi yang parah (anafilaksis). Anafilaksis adalah reaksi alergi parah yang berpotensi mengancam nyawa. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa gatal yang sangat, sesak napas, dan tekanan darah menurun drastis.

    Diagnosis Hipotensi

    Mengukur tekanan darah merupakan cara yang tepat dan mudah untuk mendiagnosis hipotensi. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan sebelum mengukur tekanan darah untuk mendapatkan hasil pengukuran tekanan darah yang tepat.
    • Mengosongkan kandung kemih atau buang air kecil.
    • Istirahat minimal 5 menit.
    • Dilakukan sambil duduk dan tidak sambil bicara.
    Selain mengukur tekanan darah, ada beberapa cara atau tes lain untuk mendiagnosis penyebab hipotensi akibat kondisi atau penyakit tertentu, dan sekaligus menentukan perawatan yang tepat, yaitu:
    • Elektrokardiogram (EKG). Tes ini bertujuan mendeteksi keabnormalan struktur jantung, masalah suplai oksigen dan darah ke otot jantung, serta detak jantung yang tidak teratur.
    • Ekokardiogram. Tes ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar struktur jantung dan memeriksa fungsinya.
    • Tes latihan stres. Tes ini dilakukan dengan cara membuat jantung bekerja lebih keras agar lebih mudah mendiagnosis tekanan darah. Bisa dilakukan dengan berjalan di treadmill.
    • Tes darah. Tes darah bisa dilakukan untuk memeriksa kadar hormon dan jika pasien mengalami anemia atau diabetes.
    • Valsalva Maneuver. Tes ini dilakukan dengan meminta pasien mengambil napas panjang kemudian menutup hidung dan membuang napas melalui mulut, seperti Anda meniup suatu balon yang sangat kaku. Tes ini dilakukan untuk memeriksa kondisi sistem saraf autonomi pernapasan.
    • Tes kemiringan tegak lurus (tilt table test). Tes ini biasa dilakukan bagi pasien hipotensi ortostatik untuk melihat perbedaan tekanan darah saat berbaring dan berdiri.

Lalu, Lebih berbahaya mana, Hipertensi  atau Hipotensi ?

Menurut slah satu penelitian, hipertensi  memang lebih berbahaya daripada  hipotensi. Dari penelitian tersebut  menyimpulkan bahwa tekanan darah  rendah (hipotensi) memiliki harapan  hidup yang lebih tinggi dibandingkan  dengan orang tekanan darah normal.  Penelitian lain juga menegaskan bahwa  orang yang mengalami hipotensi sejak  kecil usianya relatif lebih panjang dan  lebih sehat. Hipotensi akan menjadi  masalah jika terjadi pada usia dewasa,  dan penderita awalnya dalam keadaan  sangat sehat.
Tetapi, tekanan darah yang terlalu  randah juga tidak baik dan dapat  membahayakan jiwa. Seseorang yang  tekanan darahnya terlalu rendah  darahnya tidak akan mampu dipompa  keseluruh tubuh. Dengan demikian, sel- sel tubuh akan kekurangan nutrisi dan  oksigen yang lama kelamaan bisa  menyebabkan kematian jaringan.
sumber : http://www.alodokter.com/hipotensi & http://www.obathipertensi.info

Anemia

Anemia

Penyakit anemia adalah suatu kondisi di mana jumlah sel darah merah Anda lebih rendah dari jumlah normal.
Anemia juga bisa terjadi jika sel-sel darah merah tidak mengandung cukup hemoglobin. Hemoglobin adalah protein kaya zat besi yang memberikan warna merah darah. Protein ini membantu sel-sel darah merah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.
Jika Anda memiliki anemia, tubuh Anda tidak mendapatkan cukup darah yang kaya oksigen. Akibatnya, Anda mungkin merasa lelah atau lemah. Anda juga mungkin memiliki gejala lain, seperti sesak napas, pusing, atau sakit kepala.
Jenis lain dari anemia meliputi:

Mengapa anemia tak boleh dianggap sepele?

Anemia parah atau berlangsung lama dapat merusak jantung, otak, dan organ lain dalam tubuh Anda. Anemia sangat parah bahkan dapat menyebabkan kematian.

Penyebab & Faktor Risiko

Apa penyebab anemia?

Meskipun banyak bagian tubuh yang membantu membuat sel-sel darah merah, sebagian besar pekerjaan ini dilakukan pada sumsum tulang. Sumsum tulang adalah jaringan lunak di tengah tulang yang membantu membentuk semua sel darah.
Sel-sel darah merah yang sehat bertahan antara 90 dan 120 hari. Bagian tubuh Anda kemudian akan menghapus sel-sel darah tua. Sebuah hormon yang disebut erythropoietin (EPO) yang dibuat di ginjal memberikan sinyal kepada sumsum tulang Anda untuk membuat lebih banyak sel darah merah.
Hemoglobin adalah protein pembawa oksigen dalam sel darah merah. Protein ini memberikan sel darah merah warna merah. Orang dengan anemia tidak memiliki cukup hemoglobin.
Tubuh membutuhkan vitamin tertentu, mineral, dan nutrisi untuk membuat cukup sel darah merah. Zat besi, vitamin B12, dan asam folat merupakan tiga zat yang paling penting. Tubuh mungkin tidak memiliki cukup nutrisi ini karena:
  • Perubahan pada lapisan lambung atau usus yang mempengaruhi seberapa baik nutrisi yang diserap (misalnya, penyakit celiac)
  • Pola makan yang buruk
  • Kehilangan darah dengan lambat (misalnya, karena periode menstruasi berat atau tukak lambung)
  • Operasi yang menghilangkan bagian dari lambung atau usus.
Kemungkinan penyebab anemia meliputi:
  • Obat-obatan tertentu
  • Penghancuran sel darah merah lebih awal dari biasanya (yang mungkin disebabkan oleh masalah sistem kekebalan tubuh)
  • Penyakit jangka panjang (kronis) seperti penyakit kronis ginjal, kanker, ulcerative colitis, atau rheumatoid arthritis
  • Beberapa bentuk anemia, seperti talasemia atau anemia sel sabit, yang bisa diturunkan
  • Kehamilan
  • Masalah dengan sumsum tulang seperti limfoma, leukemia, myelodysplasia, multiple myeloma, atau anemia aplastik.

Siapa yang berisiko terkena anemia?

Faktor-faktor ini akan meningkatkan risiko Anda terkena anemia:
  • Pola makan kurang vitamin tertentu. Makan makanan yang rendah zat besi, vitamin B-12, dan folat secara menerus meningkatkan risiko anemia.
  • Gangguan usus. Memiliki gangguan usus yang mempengaruhi penyerapan nutrisi di usus kecil Anda (seperti penyakit celiac dan penyakit Crohn) membuat Anda berisiko anemia. Operasi pengangkatan atau operasi untuk bagian-bagian dari usus kecil Anda di mana nutrisi diserap, dapat menyebabkan kekurangan gizi dan anemia.
  • Haid. Secara umum, perempuan yang belum mengalami menopause memiliki risiko lebih besar mengalami anemia defisiensi zat besi daripada laki-laki dan wanita pasca menopause. Itu karena menstruasi menyebabkan hilangnya sel darah merah.
  • Kehamilan. Jika Anda sedang hamil, Anda mengalami peningkatan risiko anemia kekurangan zat besi karena zat besi Anda harus membantu peningkatan volume darah Anda serta menjadi sumber hemoglobin untuk bayi Anda agar dapat tumbuh.
  • Kondisi kronis. Misalnya, jika Anda memiliki kanker, ginjal atau gagal hati, atau kondisi kronis lain, Anda mungkin berisiko anemia karena penyakit kronis. Kondisi ini dapat menyebabkan kekurangan sel darah merah. Kehilangan darah kronis dan perlahan-lahan dari luka lambung atau sumber lain dalam tubuh Anda dapat menguras cadangan zat besi dari tubuh Anda, yang menyebabkan anemia defisiensi zat besi.
  • Sejarah keluarga. Jika keluarga Anda memiliki sejarah dari anemia yang diturunkan, seperti anemia sel sabit, Anda juga mungkin memiliki peningkatan risiko kondisi ini.
  • Faktor-faktor lain. Riwayat infeksi tertentu, penyakit darah dan gangguan autoimun, alkoholisme, paparan bahan kimia beracun, dan penggunaan beberapa obat dapat mempengaruhi produksi sel darah merah dan menyebabkan anemia.

Gejala

Apa saja gejala anemia?

Anda mungkin tidak memiliki gejala jika mengalami anemia ringan. Jika masalah berkembang perlahan-lahan, gejala yang terjadi pertama mungkin meliputi:
  • Merasa mudah marah
  • Merasa lemah atau lelah lebih sering dari biasanya, atau saat olahraga
  • Sakit kepala
  • Masalah berkonsentrasi atau berpikir
Jika anemia semakin memburuk, gejala mungkin termasuk:
  • Warna biru hingga putih pada mata
  • Kuku rapuh
  • Keinginan untuk makan es batu, tanah, atau hal-hal lain yang bukan makanan (disebut juga ‘pica’)
  • Pusing ketika Anda berdiri
  • Warna kulit pucat
  • Sesak napas
  • Lidah sakit
  • Beberapa jenis anemia dapat memiliki gejala lainnya.
sumber : https://hellosehat.com/penyakit/anemia/

Varises

Varises

efinisi dan Gambaran Singkat

Varises adalah pembuluh darah vena yang mengalami pembengkakan, terpuntir, atau pembesaran. Kondisi ini biasanya tampak sebagai area berwarna kebiruan atau keunguan di permukaan kulit. Varises paling sering didapati di tungkai atau betis dan anggota gerak bagian bawah, dan terutama disebabkan karena berdiri dan berjalan yang dapat memberikan tekanan tambahan pada vena di tubuh bagian bawah.
Varises umumnya bukan merupakan kondisi yang serius, namun pada beberapa kasus dapat menjadi penanda dari masalah kesehatan yang lebih serius seperti terhambatnya vena yang lebih dalam, pada kondisi yang dinamakan trombosis vena dalam. Kondisi ini umum terjadi, setidaknya dialami oleh 3 dari 10 orang dewasa. Varises cenderung lebih sering dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki.

Penyebab Varises dan Faktor Risiko

Varises dikaitkan dengan melemahnya katup dan vena pada area yang sakit. Di bagian dalam vena terdapat katup satu arah berukuran kecil yang memungkinkan darah mengalir melewatinya, namun juga berperan untuk mencegah aliran darah berbalik arah. Terkadang, katup-katup ini melemah akibat peregangan yang berlebihan atau penurunan kelenturan, yang menyebabkan kebocoran aliran darah serta darah yang mengalir berbalik arah. Peristiwa ini dapat menyebabkan akumulasi darah pada vena yang membuatnya membengkak dan membesar.
Penyebab pasti terjadinya gangguan vena ini belum sepenuhnya diketahui. Beberapa orang cenderung berpeluang mengalami Varises tanpa penyebab yang jelas dan spesifik. Namun demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang diduga dapat meningkatkan peluang seseorang mengalami Varises. Beberapa faktor risiko ini antara lain :
  • Jenis kelamin: perempuan berpotensi lebih tinggi mengalami Varises dibandingkan dengan laki-laki, alasan di balik kejadian ini dikaitkan dengan hormon yang dimiliki perempuan.
  • Genetik: risiko mengalami Varises diduga diturunkan secara herediter.
  • Usia: penuaan dapat menyebabkan penurunan elastisitas vena
  • Berat badan: kelebihan berat badan dapat memberikan tekanan yang lebih besar pada vena yang membuat katup pada vena akan bekerja lebih berat dan membuatnya rawan untuk mengalami kebocoran.
  • Pekerjaan: beberapa penelitian menyebutkan bahwa individu yang bekerja dengan durasi berdiri yang lama lebih berpeluang untuk mengalami Varises.
  • Kehamilankehamilan membuat tubuh meningkatkan produksi darah untuk menunjang pertumbuhan janin, peristiwa ini meningkatkan aliran darah serta menyebabkan perubahan hormonal yang membuat wanita hamil lebih berisiko mengalami Varises (gejala akan mengalami peningkatan yang signifikan setelah melahirkan) Pada beberapa kasus, perkembangan Varises dapat dikaitkan dengan kondisi kesehatan lainnya, seperti terdapatnya tumor di pelvis, riwayat terdapatnya bekuan darah atau stroke, atau gangguan pada pembuluh darah.

Gejala Varises

Gejala Varises dapat bervariasi dari tingkat ringan hingga berat. Umumnya tampak area berwarna biru gelap atau ungu, dan pembengkakan vena di bawah kulit. Bersama dengan ini, beberapa gejala minor lain dapat pula ditemukan :
  • Nyeri, pegal, sensasi terbakar dan berat di kaki, yang bisa memburuk karena berdiri atau duduk dalam jangka waktu lama.
  • Bengkak pada kaki dan/atau pergelangan kaki.
  • Rasa gatal pada vena yang mengalami gangguan.
  • Sensasi tidak nyaman pada tungkai bawah.
  • Kram otot yang menandakan sirkulasi darah yang kurang baik.
Gejala yang serius dapat mencakup pembengkakan pada kaki, nyeri ekstrim pada betis, peradangan dengan perubahan warna kulit, atau luka terbuka yang dapat berdarah apabila trauma tersebut tidak disembuhkan.

Kapan Harus Menemui Dokter untuk Kejadian Varises

Varises yang tidak menimbulkan rasa nyeri atau tidak nyaman umumnya tidak memerlukan penanganan medis. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, gejala yang ringan tidak memerlukan penanganan segera. Namun demikian, penting untuk menemui dokter apabila Anda mengalami:
  • Rasa tidak nyaman atau nyeri di vena.
  • Rasa sakit atau iritasi pada kulit dengan Varises.
  • Nyeri pada kaki yang dapat mengganggu tidur.
Terutama, jika Anda merasa Varises tersebut mengganggu penampilan kaki Anda. anda dapat menemui dokter untuk mendapat solusi penanganan yang tepat.

Diagnosis dan Penanganan

Selama konsultasi, dokter Anda akan mendiagnosa Varises berdasarkan tampilannya. Pemeriksaan fisik pada area yang mengalami gangguan akan dilakukan untuk memeriksa tanda-tanda serta tingkat keparahannya. Anda juga akan diminta untuk menjelaskan rasa nyeri, ketidaknyamanan, atau menceritakan saat kondisi memburuk.
Dokter mungkin akan merujuk Anda ke dokter spesialis pembuluh darah bila Varises yang Anda alami menyebabkan rasa nyeri yang berlebihan, atau jika gejala yang Anda alami menunjukkan kondisi serius yang membutuhkan pemeriksaan dan analisis lebih lanjut. Pada kasus-kasus seperti itu, akan dilakukan tes seperti pemeriksaan dengan duplex ultrasound. Gelombang suara berfrekuensi tinggi akan dipaparkan ke kaki Anda untuk menghasilkan gambaran visual vena di area tersebut. Hasil dari pemeriksaan ini dapat menentukan dan menunjukkan kerusakan pada katup yang mungkin menyebabkan Varises.
Penanganan khusus tidak selalu dibutuhkan pada kasus Varises, karena sebagian besar kasus hanya menimbulkan masalah kosmetik dibanding masalah medis. Namun demikian, kini terdapat berbagai pilihan penanganan untuk menangani Varises. Pilihan penanganan akan ditentukan oleh ukuran atau keparahan kondisi Varises Anda, gejala yang dialami, dan kondisi area terdampak. Penanganan yang diberikan mulai dari pengobatan mandiri yang dapat dilakukan di rumah hingga melalui operasi.
Untuk kasus Varises yang ringan, penanganan yang dilakukan cukup sederhana, seperti dengan meninggikan posisi kaki saat duduk atau berbaring untuk menurunkan tekanan pada vena. Menggunakan pakaian yang ketat dengan struktur selapis atau berlapis, termasuk menggunakan stocking pun dapat dianjurkan.
Untuk kasus Varises yang serius, dokter dapat menganjurkan penanganan yang lebih invasif, yang dapat berupa:
  • Skleroterapi: mencakup penyuntikan larutan kimia yang akan menyebabkan iritasi pada dinding pembuluh darah sehingga membuat pembengkakan dan bekuan darah untuk merusak pembuluh darah tersebut secara permanen.
  • Ablasi: prosedur ini mencakup perusakan dari vena yang mengalami gangguan dengan menggunakan laser atau gelombang radio.
  • Operasi: operasi seperti phlebectomy atau pembukaan vena dapat dilakukan untuk menghilangkan Varises secara permanen.

Pencegahan Varises

Hanya ada sedikit bukti mengenai solusi efektif mencegah Varises. Namun, terdapat beberapa catatan bermanfaat untuk meredakan gejala Varises yang anda alami. Hal terpenting adalah Anda dianjurkan untuk menghindari berdiri atau duduk dalam jangka waktu lama. Hal ini sangat penting, lakukan istirahat secara teratur dan di malam hari Anda dapat sedikit meninggikan posisi kaki untuk meringankan tekanan pada kaki. Pola hidup aktif dengan olahraga yang cukup juga secara signifikan mengurangi perkembangan Varises. 

sumber : https://www.docdoc.com/id/info/condition/varises

Stroke

Stroke
Stroke adalah kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terputus akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah, sehingga terjadi kematian sel-sel pada sebagian area di otak. Stroke adalah kondisi kesehatan yang serius yang membutuhkan penanganan cepat.
Ketika pasokan darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke otak terputus, maka sel-sel otak akan mulai mati. Karena itu semakin cepat penderita ditangani, kerusakan yang terjadi pun semakin kecil bahkan kematian bisa dihindari. Jika Anda merasakan serangan stroke atau melihat orang lain terserang stroke, segera hubungi rumah sakit untuk meminta ambulans.
stroke-alodokter

Gejala stroke

Ingatlah gejala stroke berikut ini agar dapat melakukan tindakan yang tepat.
  • Cara bicara penderita tidak jelas atau kacau, bahkan ada juga penderita yang tidak bisa bicara sama sekali walau mereka terlihat sadar
  • Mata dan mulut pada salah satu sisi wajah penderita terlihat turun
  • Lengan si penderita mengalami kelumpuhan saat terserang stroke, karena itu mereka tidak mampu mengangkat salah satu atau bahkan kedua lengannya
Segera hubungi rumah sakit jika Anda melihat gejala-gejala di atas.

Latar belakang terjadinya stroke

Otak dapat berfungsi dengan baik jika pasokan oksigen dan nutrisi yang disediakan darah mengalir dengan baik. Jika pasokan darah terhambat, maka otak akan rusak, bahkan seseorang yang terkena stroke bisa meninggal.

Stroke menurut jenisnya

Jenis stroke jika dilihat dari penyebabnya dibagi menjadi dua yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke iskemik terjadi jika pasokan darah berhenti akibat gumpalan darah dan stroke hemoragik terjadi jika pembuluh darah yang memasok darah ke otak pecah.
Ada juga yang disebut TIA (Transient Ischemic Attack) atau stroke ringan. TIA terjadi ketika pasokan darah ke otak mengalami gangguan sesaat yang biasanya diawali dengan gejala pusing, penglihatan ganda, tubuh secara mendadak terasa lemas, dan sulit bicara.
Meski hanya sesaat, tetap harus ditangani secara serius. Karena hal ini biasanya merupakan peringatan akan datangnya serangan stroke berat.

Penyakit stroke di Indonesia

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, terdapat sekitar 12 penderita stroke per 1000 penduduk Indonesia. Stroke juga merupakan penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia.
Orang-orang yang usianya lebih dari 65 tahun paling berisiko terkena stroke. Namun dua puluh lima persen stroke terjadi pada orang-orang yang berusia di bawah 65 tahun, termasuk anak-anak.
Orang-orang yang merokok, kurang olah raga, dan memiliki pola makan yang buruk juga rentan terhadap stoke. Selain itu orang-orang yang sirkulasi darahnya terganggu akibat tekanan darah tinggikolesterol tinggi, detak jantung tidak teratur atau fibrilasi atrium, dan diabetes, juga lebih rentan terhadap stroke.

Diagnosis stroke

Stroke umumnya didiagnosis melalui tanda-tanda fisik, serta melalui foto atau pencitraan otak. Pencitraan otak gunanya untuk menentukan apakah stroke disebabkan oleh arteri yang tersumbat atau pembuluh darah yang pecah, adanya risiko serangan stroke iskemik, bagian otak mana yang terserang, dan seberapa parah stroke tersebut.

Metode pengobatan stroke

Pengobatan stroke tergantung dari jenisnya, stroke iskemik atau hemoragik. Pengobatan juga disesuaikan pada area otak mana stroke terjadi. Pada umumnya stroke diobati dengan obat-obatan, termasuk obat pencegahan untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan tingkat kolesterol, dan menghilangkan pembekuan darah. Dalam beberapa kasus, operasi diperlukan untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh stroke hemoragik atau menghilangkan lemak di arteri.

Dampak stroke terhadap kehidupan penderitanya

Stroke dapat berdampak pada kehidupan dan kesejahteraan Anda dalam berbagai aspek. Proses rehabilitasinya spesifik dan tergantung pada gejala yang Anda alami dan seberapa parah gejala tersebut. Sejumlah ahli dan spesialis bisa membantu. Diantaranya adalah, psikolog, ahli terapi okupasi, ahli terapi bicara, perawat dan dokter spesialis, serta fisioterapi.
Kerusakan akibat stroke bisa meluas dan berlangsung lama. Sebelum pulih seperti sedia kala, penderita harus melakukan rehabilitasi dalam periode panjang. Namun sebagian besar dari mereka tidak akan pernah pulih sepenuhnya.

Pencegahan stroke

Stroke dapat dicegah melalui penerapan pola hidup sehat. Risiko mengalami stroke akan berkurang jika Anda makan makanan sehat, berolahraga secara teratur, tidak merokok, dan minum alkohol sesuai takaran. Berusaha menurunkan tingkat kolesterol dan tekanan darah tinggi dengan obat-obatan juga bisa mengurangi risiko terkena stroke. Pada sebagian orang, obat-obatan untuk mencegah pembekuan darah serta obat untuk menjaga kadar normal gula darah juga penting untuk mencegah terjadinya stroke.

Komplikasi stroke

Stroke dapat menyebabkan munculnya berbagai komplikasi, dan beberapa diantaranya dapat membahayakan nyawa si penderita. Contoh dari komplikasi tersebut diantaranya adalah hidrosefalus atau tingginya produksi cairan serebrospinal, disfagia atau kesulitan menelan, dan trombosis vena dalam atau penggumpalan darah pada kaki.

Gejala dan tanda-tanda penyakit stroke yang harus Anda ketahui

Tiap bagian tubuh dikendalikan oleh bagian otak yang berbeda-beda sehingga gejala stroke akan tergantung kepada bagian otak yang terserang dan juga tingkat kerusakannya. Gejala atau tanda-tanda stroke bervariasi pada tiap orang, namun umumnya muncul secara tiba-tiba.
Anda dapat mengingat hal-hal berikut ini untuk dapat mengenali gejala stroke dan melakukan tindakan pertolongan secara tepat.
  • Cara bicara penderita yang tidak jelas atau kacau, bahkan ada juga penderita yang tidak bisa bicara sama sekali walaupun mereka terlihat terjaga.
  • Mata dan mulut pada salah satu sisi wajah penderita terlihat turun.
  • Lengan si penderita mengalami kelumpuhan saat terserang stroke, maka dari itu mereka tidak mampu mengangkat salah satu atau bahkan kedua lengannya.
Segera hubungi rumah sakit jika Anda melihat gejala-gejala di atas.
Menyadari gejala atau tanda-tanda di atas adalah hal yang penting, terlebih lagi bagi mereka yang tinggal bersama orang yang berisiko tinggi terkena stroke, seperti manula, penderita diabetes, atau penderita tekanan darah tinggi. Selain itu, gejala atau tanda-tanda stroke lainnya meliputi:
  • Kesulitan menelan.
  • Masalah pada keseimbangan dan koordinasi.
  • Masalah komunikasi, seperti sulit bicara dan memahami ucapan orang lain. Dapat terjadi ketidakmampuan berbicara secara total.
  • Pusing dan pingsan.
  • Hilang penglihatan secara tiba-tiba atau penglihatan menjadi ganda.
  • Sakit kepala hebat yang datang secara tiba-tiba, disertai kaku pada leher. Dapat terjadi sakit kepala berputar (vertigo).
  • Mual dan muntah.
  • Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
  • Baal pada salah satu sisi tubuh.
  • Penurunan kesadaran
  

sumber : http://www.alodokter.com/stroke/penyebab

Jantung Koroner

Jantung Koroner 
 koroner dan mencurigai Anda telah mengalami serangan jantung, segera berkonsultasi dengan dokter. Pada umumnya dokter akan memastikan kesehatan jantung Anda dengan melakukan beberapa tes atau pemeriksaan.

Cara Mendiagnosis Penyakit Jantung Koroner

Berikut ini beberapa prosedur yang biasa dilakukan oleh dokter untuk memastikan Anda menderita PJK atau bersiriko tinggi menderita PJK.
  • Elektrokardiogram (ECG atau EKG) untuk melihat apakah Anda pernah mengalami serangan jantung.
  • Echocardiogram untuk melihat dan mengukur tingkat fungsi jantung
  • Kateterisasi jantung atau angiogram untuk memeriksa aliran darah yang melalui jantung Anda.
  • Computerized tomography (CT) scan pada organ jantung Anda untuk memeriksa tumpukan plak di arteri Anda.
  • Magnetic resonance angiography (MRA), menggunakan teknologi MRI untuk mencari penyumbatan pada pembuluh darah.

Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner

Penumpukan plak pada arteri koroner biasanya di akibatkan karena adanya kerusakan pada dinding bagian dalam arteri koroner dan hal ini bisa tejadi sejak masa kanak-kanak. Kerusakan ini biasanya di akibatkan karena:
  • Kebiasaan merokok
  • Menderita penyakit darah tinggi
  • Tingkat Kolesterol yang tinggi
  • Menderita penyakit diabetes
  • Terapi radiasi untuk pengobatan penyakit kanker (di daerah dada)
  • Gaya hidup yang tidak aktif (malas berolahraga)
  • Riwayat keluarga penderita penyakit jantung koroner
  • Kegemukan atau obesitas
  • Tingkat stes yang tinggi
Para peneliti juga mempelajari faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner seperti
  • Peningkatan trigliserida
  • Homocystein tinggi
  • Peningkatan lipoproterin-a
Jika Anda memilki beberapa faktor risiko penyakit jantung koroner, seperti merokok atau mempunyai tekanan darah tinggi segera periksakan diri Anda ke dokter supaya Anda bisa segera mendapatkan penanganan untuk mengurangi risiko di masa depan seperti menurunkan tekanan darah tinggi atau kadar kolesterol yang tinggi.

Pengobatan Penyakit Jantung Koroner

Apabila Anda telah mendapatkan vonis dari dokter bahwa Anda menderita penyakit jantung koroner bersegeralah untuk merubah gaya hidup seperti:
  • Berhenti merokok
  • Makan makanan yang sehat
  • Berolahraga secara teratur
  • Menurunkan berat badan
  • Mengurangi stres
Selain melakukan tips diatas, pengobatan penyakit jantung koroner juga bisa dilakukan dengan mengkonsumsi obat jantung koroner, termasuk:
  • Obat penurun kolesterol, yang dirancang untuk mengurangi kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL)
  • Obat pengencer darah seperti aspirin yang berfungsi untuk mengurangi risiko penggumpalan darah
  • Nitrogliserin untuk mengontrol nyeri dada berkerja membersihkan penyumbatan di areri koroner
  • Angiotesin converting enzyme (ACE) dan angina receptor bloker (ARB) untuk menurunkan tekanan darah
Dalam beberapa kasus penyakit jantung koroner memerlukan penanganan yang lebih serius seperti pemasangan ring pada arteri koroner, angiopati atau operasi bypass arteri koroner yang tentunya membutuhkan biaya yang sangat banyak. Ring yang dipasang bertujuan untuk membuka arteri yang menyempit dengan tujuan untuk meningkatkan aliran darah.
Komplikasi Penyakit Jantung Koroner
Penyakit arteri koroner dapat menyebabkan komplikasi berikut
  • Nyeri dada (angina)
  • Serangan jantung
  • Ketidakmampuan jantung untuk memompa darah (gagal jantung)
  • Irama denyut jantung yang abnormal (aritmia)
Dengan pemeriksaan dini dan pengobatan penyakit jantung koroner yang tepat dapat membantu menghentikan atau memperlambat perkembangan penyakit arteri koroner serta membantu mencegah terjadinya komplikasi penyakit jantung koroner